Retha Dungga's Doodles and Scribblings.

Posts Tagged: youth

Text

Memasuki dekade baru hidup. Seperti sudah tahu banyak, tapi belum tahu semuanya. Rasanya sih masih punya semangat yang sama seperti 10 tahun lalu, tahun ke-dua kuliah. Seru-serunya di Denpasar, mulai kenalan dengan dunia aktivisme lewat konferensi Indonesian People’s Forum di Nusa Dua. Konsepnya asik banget, sebuah pertemuan masyarakat sipil yang dilakukan paralel dengan PrepCom IV agar bisa diperhitungkan rekomendasi dan keterlibatannya pada sesi Stakeholders Dialogue. Divisi bermacam-macam, tapi paling suka dengan usaha melibatkan tim seniman untuk memastikan pesan tersampaikan secara artistik baik lewat instalasi, panggung seni atau pertunjukan di amphitheatre. I was hooked. Didn’t really know why I was there exactly, but I love the sense of fighting for a cause together.

Karena udah doyan, semangatnya terus kebawa terus ke organisasi. Tahun selanjutnya, makin aktif di Senat kampus. Senang banget bisa bikin sistem pengawas independen buat cegah bullying terhadap mahasiswa baru. Daya tawarnya clear banget, zero tolerance for violence or we’re out. Dan Sastra punya massa terbesar saat itu, ke dua setelah Ekonomi. Bareng sama anak Teknik yang support abis sistem pengawas independen, BEM ngga berkutik. Mereka harus ngikut tawaran kita. Sistem pengawas independen berjalan bagus saat itu. Kita sampai bikin penduan point terhadap pemandu gugus dan bagian keamanan kalau sampai terjadi kekerasan. I wonder if the system still runs now. 

HMJ & JKAI, ah.. Always have a loving-hating relationship with these organisations. Saat itu, anak-anak HMJ sebel banget karena saya lebih suka aktif di Senat daripada membesarkan himpunan. Well, bukan salah saya kalau memang Senat jauh lebih menarik daripada kelompok mahasiswa antropologi yang bahkan gagal menjelaskan pada saya apa itu ilmu antropologi. Mereka terjebak dalam dunia buku Koentjaraningrat. Bahkan mengkonkretkan sebuah aksi bersama aja nggak bisa. Betul-betul nggak menarik, malah saya lebih suka dengerin anak-anak Arkeologi berdebat soal carbon-dating dan metode ekskavasi. Eh tapi tapi, pandangan saya ini berubah saat saya mulai kenalan dengan teman-teman antropologi lain lewat jalur JKAI.

Mendadak antropologi jadi jauh lebih menyenangkan. Ketemu dunia baru bernama Jaringan, tempat bisa cari referensi tambahan dan kaum sespesies yang doyan kajian budaya pop, media dan hal-hal kecil yang ada di sekitar tapi signifikan. I was out and about. Eksplor Surabaya lewat teman-teman UnAir. Jogja yang intelektual lewat UGM. Bandung kota jilbab dan minuman lewat UnPad. Dan tentunya dapat konfirmasi juga tentang karakter mahasiswa UI yang individualis. Sayang sampai skarang belum sempat eksplor Padang, Medan, Makassar, Kendari, Gorontalo, Jayapura lewat kawan-kawan Antro di universitas negeri masing-masing kota itu. Semoga suatu saat bisa, dengan jalur akademik, atau non-formal. Acara yang kami host di Bali saati itu bernama Pra-Sarasehan. Ah saya senang sekali dengan konsep ini. Seperti Gonzaga dan Temu 7 Kolese. Intinya, pertemuan para kerabat/saudara Antro (tanpa p, ya kami di Bali menyebutnya tanpa huruf p) dari berbagai kampus di penjuru Indonesia. Pertemuan membahas tentang rencana-rencana kolaborasi, tapi karena kurang difasilitasi dengan baik, follow up kemudian jadi peer besar yang jarang terealisasi. Sayang memang, sepertinya itu ngga jadi perhatian besar. Lebih penting nongkrong update tentang kondisi jurusan masing-masing. Bicara kelebihan dan tantangan jadi mahasiswa antropologi di dunia yang meminggirkan kami di saat dunia barat sangat mengagungkan jurusan ini. Cerita tentang model/gaya upacara inisiasi di kampus masing-masing. Siapa yang biasanya jadi saman, seberapa hancur makanan yang dikonsumsi calon kerabat, berapa dalam observasi yang harus dilakukan, berapa banyak kerabat luar yang datang, macam-macam. Well, buat saya saat itu dunia terbuka lebar.

Antropologi mendadak punya banyak sekali potensi. Saya jadi nggak merasa terjebak harus mendalami sesuatu yang buat saya nggak menarik. Akhirnya ketemu sesama orang gila yang berani keluar dari kotak bahasan 7 unsur budaya universal. Yang bicara signifikansi seni kontemporer di jalan, video, fotografi, komik, lukisan, sebagai budaya masa kini dan menunjukkan bahwa ini penting untuk diperhatikan. Ecstatic. Saya ketemu panggilan baru. Bridging pembahasan tentang hal-hal sekitar yang dipotret media dengan cara baru, seengganya untuk dunia antropologi budaya, di Udayana Bali. Dengan diskusi panjang, saya dapat dukungan untuk membahas etnosemiotika sebagai alat bedah iklan untuk mencari pemaknaan unsur budaya oleh variasi kelompok etnis. Menyenangkan sekali. Saat itu jadi fondasi besar tentang pentingnya sebuah pemaknaan ulang dan penyampaian konsep-konsep besar dengan lebih tepat guna sesuai dengan target audiens, dengan memperhatikan latar budaya dan kondisi sosial mereka. Rasanya ilmu antropologi saya saat itu ngga ada bedanya dengan ilmu komunikasi. Sekarang ini baru terasa bedanya, saya punya perspektif yang lebih sensitif terhadap latar budaya dan konteks sosial dibandingkan mereka yang murni dari ilmu komunikasi seperti PR atau broadcasting. It’s not just about communication, it’s communicating with depth understanding who your audience is. Dan ilmu ini kebawa banget, saat baru belajar PR di Bali Food Festival, saat buat naskah untuk prime-time programs Hard Rock Radio, saat saya harus menerjemahkan anti-korupsi bagi anak muda. Cara kita berkomunikasi yang fokus pada aktif mendengar untuk menggali lebih lanjut cara berpikir orang lain, dengan memperhatikan latar budaya dan konteks sosialnya, jadi skill dasar sekali saat saya memutuskan untuk mendalami lagi ilmu fasilitasi. Dan saya ketemu antropolog dan seorang dokter yang sudah lama melintang di dunia NGO internasional saat belajar fasilitasi. Mereka banyak bantu berbagai instansi, organisasi, komunitas, dan individu merevitalisasi sendiri dan berkembang pesat. Bisa dibilang kami punya perspektif yang mirip. Kemampuan observasi dan mendengar aktif sangat-sangat penting di dunia fasilitasi. ClubSPEAK menjadi tempat saya bereksperimen sekaligus mengkonfirmasi akumulasi ilmu yang saya pelajari sejak 10 tahun lalu. Pendampingan komunitas berlaku seumur hidup. Seperti ngayah. Ini jadi dedikasi kontrak sosial saya untuk masyarakat Indonesia. Ilmu yang saya dapat, yang dibiayai lewat pajak warga Indonesia, saya kembalikan lagi untuk bantu anak muda Indonesia jadi lebih kritis melihat kondisi sekitar. 

Proses panjang sampai akhirnya yakin dengan panggilan ini. Antropologi + Komunikasi + AnakMuda + Anti Korupsi. Anyway, antropolog itu dan dokter yang saya temui dan jadi berteman baik skarang, ternyata adalah tim di balik konsep IPF, 10 tahun yang lalu! Universe is saying something. This is meant to be.  

So here I am. Fish with a Cause. 

Picture by Ruben Ireland titled “News From Afar”

Text

Tadi malam saya melontarkan pertanyaan via twitter. Apa yang membuat anak muda strategis bagi gerakan anti korupsi? Iseng aja sih, pengen tau juga, sekali-kali agak serius di channel yang satu itu seperti apa responnya. Ternyata lumayan! Tadinya saya mau posting tulisan ini di twitter, sebagai tanggapan atas pendapat yang bersambut atas pertanyaan saya. Berhubung agak panjang, jadi saya taruh di sini aja. Selamat membaca.

Gimana pendapat yang masuk via twitter? Iya, anak muda dipandang kelompok strategis bagi gerakan anti korupsi. Dari 8 penanggap, ngga satu pun yang bantah. Ada satu orang, yang setelah saya challenge sedikit, jawabannya agak-agak non sequitur, alias malah ngga nyambung. Anyway, banyak jawaban yang orientasinya masa mendatang. Anak muda generasi penerus, akan gantiin kepemimpinan. Ada harapan, pada saatnya mengubah dunia. Intinya, hasil baru bisa dinikmati di masa mendatang. Jawaban standar penuh idealisme, memang. Yang sayangnya cukup sering dimunculkan di ruang-ruang kelas seperti diajarkan jadi jawaban otomatis, sehingga terasa banal. Tapi @aniwahyu melihatnya lebih cerdas, menurutnya anak muda bukan sekedar kelompok pasif yang diberi edukasi lalu hasilnya dipetik di masa depan. Di masa ini (orientasi kini), anak muda sendiri bisa langsung bergerak, pengaruhi kelompok muda lainnya, bahkan orang tua, guru, dosen. Viral effect. Untuk bisa ‘menularkan’, caranya seperti yang disinggung @puputtripeni, dengan organisasi. Tapi menurut saya organisasi harus dilihat sebagai entitas yang lebih aktif lagi. Anak muda bukan hanya belajar di dalamnya tapi juga harus bisa pengaruhi ke luar. Kemampuan mengorganisir ini jadi penting, misalnya untuk cerita @nengayuu tentang anak muda baru mulai kerja di instansi selalu tunduk atasan, padahal ini nggak selalu baik. Kalau seluruh anak muda di instansi itu bergabung bentuk aliansi, misal aliansi Muda Berani (termasuk berani idup seadanya karena ngga terima suap), sebagai sebuah kelompok ada kekuatan bersama untuk menciptakan tekanan (dari bawah, lebih bagus lagi kalau ajak setingkat atasan ikutan gabung juga). Tekanannya jadi lebih praktis. Contoh, Sekretaris tahu atasannya pergi ke luar kota bukan urusan pekerjaan, dia bisa menolak pengaturan travelnya. Saat ia ditekan, kawan-kawan aliansi menciptakan tekanan kembali dengan rilis statement dan kirim report resmi untuk ‘melindungi’. Di sini si sekretaris jadi punya daya tawar untuk lakukan penolakannya, ia nggak sendirian.

Logika yang sama berlaku untuk @clubSPEAK. 

Kami yakin banyak anak muda yang kesal banget dengan kondisi korup di sekolah, jalan, rumah, kampus. Tapi kebanyakan seolah sendiri-sendiri aja di lingkungan masing-masing, sehingga merasa kecil. Kami membuat ‘rumah’, bernama @clubSPEAK, untuk anak muda yang seiman integritasnya (sebelnya sama korupsi) agar ketemu dan saling berbagi gagasan tentang langkah konkrit yang bisa dilakukan anak muda dan konkrit juga jalankan itu. Rumah ini terus mengalami perkembangan. Kamarnya bertambah terus. Awalnya hanya campaign (sekarang berkembang jadi SpeakFest). Lalu ada ruang workshop tempat kita bersama menggodok ide, lalu menjalankannya dalam aksi konkrit (@citalangit salah satu alumnus workshop kita) - ruang ini sekarang dalam renovasi, akan menjadi Speak Institute dengan periode belajar analisa sosial dan paparan gagasan lebih intensif. Ada penambahan juga, ruang Speak Goes to School, tempat anak muda yang mau memperkuat OSIS dengan prinsip transparansi dan akuntabilitas untuk kerja-kerja program mereka. Ruang diskusi bulanan, bernama Speak Forum, tempat anak muda memperkaya pengetahuan umum, berhubungan dengan sejarah Indonesia yang terdistorsi, atau tentang kondisi gerakan anak muda terkini. Ada 3 kamar lainnya yang energinya disalurkan sebagai backbone 4 kamar yang disebutkan sebelumnya, admin & keuangan, PR & fundraising, dan PI alias Pengembangan Internal yang salah satu tugasnya setiap minggu menciptakan diskusi-diskusi bergizi dalam pertemuan clubSpeak. 

Kami berusaha melakukan sesuatu untuk memahami masalah ini dan melakukan langkah-langkah konkrit yang kami tahu kami mampu lakukan. Memperkuat diri dengan pengetahuan & practical skill. Kami meninjau pengetahuan di ranah politik yang selama ini sering dialergikan anak muda (faktor kepungan gaya hidup hedonis/materialistis). Meninjau pengetahuan tentang sistem pendidikan yang ada yang ternyata banyak melemahkan daya kritis kami. Juga melihat kembali bagaimana media yang banyak bombardir dengan ekspose masalah dan melenakan masyarakat dengan cerita koruptor negara layaknya gosip-gosip selebriti. Apakah usaha kami ini strategis? Jelas. Karena pemahaman yang kami miliki menular. Resources kami banyak. Teknologi sangat mendukung. Saat anggota clubSPEAK kembali ke lingkup masing-masing, di kampus, sekolah, atau rumah, mereka bisa melihat lebih kritis kondisi yang ada dan mendorong terjadinya perubahan sistem yang lebih transparan, lebih bertanggung jawab. Saat yang satu terbelit dilema, kami saling menguatkan dan bantu mencari solusi. Saling menyemangati. 

Pertanyaannya kemudian, bisakah ini jadi cukup besar untuk mengubah Indonesia? Dengan inisiatif dan bantuan teman-teman, pasti bisa. Saat ini memang kami masih sebagai komunitas kecil di Jakarta. Pengalaman kami baru selingkup Jakarta, dan banyak langkah kami masih tahap trial and error. Tapi yakin, semangat kami juga banyak dimiliki anak muda lain di penjuru Indonesia. Lewat tulisan ini saya ingin serukan ke teman-teman di luar sana, bahwa jika kamu cukup peduli untuk dapatkan layanan publik yang baik (edukasi - fasilitas sekolah, transportasi - jalanan yang nggak bolong atau macet, administrasi - birokrasi yang nyaman ramah, bikin KTP asik), bahkan yang personal sekalipun seperti transparansi keuangan dalam keluarga, kamu juga bisa lakukan sesuatu. Yakini diri bahwa memang ada perubahan yang kamu ingin lihat. Claim that in yourself. Fight for it. Get your friends to support you. Ciptakan komunitasmu sendiri. Berjejaringlah dengan kami. Letupan-letupan kecil menciptakan gangguan-gangguan kecil, yang saat terjadi di banyak tempat, akan punya momentumnya sendiri, mencapai titik didihnya dan membalikkan keadaan.  

Dan itu membawa kita pada pertanyaan selanjutnya, apakah kamu mau ciptakan perubahan, konkrit? (negara ini ngga perlu lagi janji-janji kosong seperti orang-orang yang tampangnya banyak menghiasi baliho menjelang pilkada)

Oh ya, saya janji mau kirim e-book “The Barefoot Guide” buat yang udah kasih pendapat paling OK. Congratz buat @aniwahyu atas pendapatnya yang kritis dan @puputtripeni yang melihat organisasi sebagai entry point. Tolong kirimin saya email ya.. ke ishtar.bumi@gmail.com. Teman-teman lain kalau ingin diskusi lebih jauh juga bisa tinggalkan pesan lewat fitur blog ini. Terima kasih sudah membaca sampai selesai. Salam.

Sepotong jepretan serunya anak-anak muda anti korupsi (kalau lagi ngga dibombardir ilmu-ilmu yang ngga relevan). Semangatnya nular banget! Saat ini kelompok per region sudah mulai bergerak menjalankan rencana masing-masing. 
Thanks Kang Deden atas foto ini :D

inspiritinc:

Dani, Retha, Ijul dan Dendy membantu sesi-sesi kepemimpinan dan kreativitas bagi 38 orang peserta Youth Leadership Camp 2011: Students Go Anti Corruption pada 4-6 Juli di Panjang Jiwo Resort, Bogor

Sepotong jepretan serunya anak-anak muda anti korupsi (kalau lagi ngga dibombardir ilmu-ilmu yang ngga relevan). Semangatnya nular banget! Saat ini kelompok per region sudah mulai bergerak menjalankan rencana masing-masing. 

Thanks Kang Deden atas foto ini :D

inspiritinc:

Dani, Retha, Ijul dan Dendy membantu sesi-sesi kepemimpinan dan kreativitas bagi 38 orang peserta Youth Leadership Camp 2011: Students Go Anti Corruption pada 4-6 Juli di Panjang Jiwo Resort, Bogor

Source: inspiritinc

And an excerpt from Fat Boy Slim’s “Weapon of Choice”

Don’t be shocked by tone of my voiceCheck out my new weapon, weapon of choice

I say themcflychronicles put this so fine :

Choose Wisely ..

Because technology change, sticky factor also change from time to time. Social movement ain’t going anywhere if the activists don’t innovate! Are we creating the game or are we just players trying to beat that monster in the end level?

And an excerpt from Fat Boy Slim’s “Weapon of Choice”

Don’t be shocked by tone of my voice
Check out my new weapon, weapon of choice

I say themcflychronicles put this so fine :

Choose Wisely ..

Because technology change, sticky factor also change from time to time. Social movement ain’t going anywhere if the activists don’t innovate! Are we creating the game or are we just players trying to beat that monster in the end level?

Source: sircthurnis