Jakarta Berdaya Bareng.

Saya pertama kali dikenalkan pada sosok Faisal Biem sekitar bulan September/Oktober 2011 oleh Kang Teten. Katanya, ‘saya sedang bantu kawan, orang baik yang kita dorong maju mencalonkan diri jadi gubernur Jakarta.’ Satu setengah dekade dibesarkan di lingkungan skeptik alami membuat saya gak gampang percaya track record dan cerita kebajikan tentang Bang Faisal. Alarm mekanisme pertahanan saya langsung aktif. Saya tanya, ‘partainya apa?’ Dijawab dengan santai oleh Kang Teten, ‘nggak ada, makanya sekarang perlu bantuan ngumpulin dukungan copy KTP sebanyak mungkin. Kamu ikut bantu ya?’ Yang muncul di pikiran adalah pertanyaan, kenapa juga saya harus kasih copy KTP saya untuk dukung orang yang saya ngga kenal? Maka saat pengumpulan copy KTP tahap awal dimulai, saya ngga terlalu tertarik untuk dukung. Meski begitu, entah kenapa, diam-diam saya mulai ngintip profil, riset kecil-kecilan tentang rekam jejak Faisal Basri, dan ngulik konsep independensi politik. Beberapa perdebatan seru dengan teman-teman nongkrong dari berbagai lingkaran sempat terjadi dan saya masih belum tergoyahkan, terutama karena saya berpikir tampuk kepemimpinan Jakarta begitu kotor dan ruwetnya. Saya menganggap pun ada calon independen yang naik, tetap akan ada kesepakatan politik bawah meja untuk cari dukungan dari partai. Ya baiklah Faisal Biem baik, ya dia bagian dari kaum kami, aktivis anti korupsi. But I was still not convinced. I need to understand the real motives first.

Beberapa waktu kemudian, berbulan-bulan setelahnya, saya dengar pengumpulan KTP kelompok Bang Faisal mengalami hambatan saat verifikasi KPUD. Ratusan ribu copy KTP yang dikumpulkan dianulir begitu saja karena alasan yang kurang masuk logika, gagal ditemui petugas KPUD saat pengecekan data. Absurd. Karena saya tahu betul beberapa kawan yang mengorganisir pengumpulan KTP serius melakukannya tanpa manipulasi data sedikit pun. Saya merasa ada kejanggalan, apalagi tim independen yang satu lagi tidak mengalami hambatan besar atas jumlah KTP yang dianggap tidak memenuhi syarat. Cobaan menantang, yang justru menarik perhatian saya. Some people up there are very watchful with this candidate. Tim Bang Faisal lalu mendapat kesempatan untuk mengumpulkan lagi hampir 200 ribu copy KTP sebagai bentuk dukungan warga hanya dalam waktu satu bulan. Entah kenapa, saya mulai tergerak. Saya pikir, OK kenapa nggak, saya mau bantu. This means something. Konsep independensi mulai masuk akal, ada kelompok yang tak terlihat yang merasa terancam oleh mereka. 

Saya coba kontak tim Faisal Biem untuk kasih copy KTP dan tanda tangan formulir dukungan. Responnya baik sekali. Tim relawan diorganisir untuk menangani beberapa lokasi dan jemput copy KTP langsung dengan membawakan formulir. Hey, this is interesting. Di tengah sistem lemah yang memungkinkan terjadinya pemalsuan identitas dengan mudah, tim ini serius mencari dukungan konkrit. Saya belum pernah mengalami delivery service untuk dukungan keterlibatan politk seperti ini. Dan harus saya akui, saya sangat terkesan saat relawan tim Faisal-Biem datang ke kantor jemput copy KTP saya dan ngobrol tentang proses pengumpulan KTP. It was a personalised political experience. Saya merasa dihargai, diperhitungkan. 

Beberapa waktu kemudian, senang mendengar Faisal-Biem berhasil memenuhi syarat pengumpulan jumlah KTP minimal untuk maju sebagai calon gubernur jalur independen. Total dukungan yang dikumpulkan yang lolos verifikasi lebih dari 487 ribu. Saya semakin perhatikan model pengorganisasian untuk galang dukungan yang dipimpin Mas Tosca (pendiri KBR68H, profilnya saya kenal lewat Ashoka). Jujur, kalau ditanya apa yang membuat saya tertarik dengan tim ini, jawab saya sederhana aja. Saya kepincut dengan tagline “Berdaya Bareng-Bareng”. Tagline yang begitu kuat, karena di baliknya tertanam sebuah prinsip kebersamaan yang menjadi kunci saya dan kawan-kawan yang bergelut di bidang community organizing. Kelompok Barefoot Collective dengan kerennya menuangkan kunci itu dalam puisi seperti ini:

Jika kamu beri saya ikan, kamu sudah beri saya makan untuk satu hari. 
Jika kamu ajari saya memancing, kamu sudah memberi saya makan, sampai suatu hari nanti sungai tercemar atau garis pantai menyusut karena pembangunan. 
Namun, jika kamu ajari saya berorganisasi, maka apa pun tantangannya, saya bisa bergabung dengan teman-teman saya, dan kami akan berupaya mencari solusi kami bersama-sama.  

Perubahan sosial ngga akan terjadi kalau masyarakat nggak diajak berpartisipasi dalam menciptakan perubahan itu sendiri. Pak Faisal dan tim memahami betul prinsip ini. Mereka pergi ke kampung-kampung urban Jakarta untuk duduk berjam-jam, keliling dan menginap di rumah warga mendengarkan dan belajar tentang narasi-narasi kecil yang jadi kegelisahan masyarakat yang sering terpinggirkan. Kesederhanaan Pak Faisal tentunya sangat membantu proses ini, sehingga nggak menimbulkan jarak saat berinteraksi dengan siapa pun. Kesederhanaan yang sama yang dipertahankan saat berhadapan dengan kelas menengah.

Saya sempat datang ke launching donasi online Faisal-Biem. Semacam untuk lebih meyakinkan meresmikan diri sendiri jadi pendukung kandidat DKI 1 itu. Seperti karakter Faisal-Biem, acaranya dibuat sederhana, berlawanan dengan hingar-bingar atribut kepartaian yang sering terlihat agak dipaksakan. Banyak orang-orang keren yang datang, beberapa yang bisa dilihat dalam video testimoni Faisal-Biem. Dalam acara ini, beberapa bergantian maju kasih testimoni, dan ada 2 yang berhasil menarik perhatian saya. 

Pertama, guru SMA Bang Biem di Pangudi Luhur. Iya, SMA Katolik di jalan Brawijaya yang suka berantem sama Gonz itu. Cukup menunjukkan latarnya dari seniman betawi yang terbuka. Pak Guru dengan sedikit grogi bilang. “saya inget banget ini sama si Biem, dulu tiap Jumat sering Jumatan bareng sama saya. Sekarang ini saya mungkin ngga bisa kasih dukungan uang, tapi secara moriil dan mengumpulkan dukungan di kampung saya… jelas saya pasti bantu!” Testimoninya tulus, bukan hafalan, cerita dari hati dengan refleksi pengalaman yang sungguh personal. 

Yang kedua, dari Pak Faisal sendiri. Saya akhirnya berkesempatan untuk benar-benar fokus memperhatikan Pak Faisal langsung saat berbicara. Waktu kasih sambutan beliau cerita, selesai acara penentuan nomor kandidat di hotel Sultan, ada perantara yang mendekati dia dan menawarkan 200 milyar untuk bantu dana kampanye, in exchange of proyek pelabuhan sepanjang Kamal sampai Kali Baru yang sangat ambisius, nilai proyek setara 200 trilyun. Dengan datar Pak Faisal bilang, “200 milyar mah seolah-olah ini seperti pilpres saja, ini pilkada, tidak perlu seperti itu.” Jadi dia tolak tawaran si perantara itu. Katanya lagi, “lebih baik mengumpulkan dana dari masyarakat, tidak banyak memang, tapi memang ini bukan mewah-mewahan.

Saya setuju sekali. Yang penting ketulusan masyarakat untuk dukung. Mengembalikan demokrasi ke sejatinya sebagai perpanjangan suara masyarakat. Saya suka yang seperti ini. Tulus tidak dibuat-buat. Calon pejabat yang memang ingin naik karena ingin buat perubahan bagi tempat tinggalnya. Buat saya, ini motivasi pribadi yang kuat. Motivasi membuat perubahan, bukan untuk mengumpulkan kekayaan. 

Pak Faisal mungkin bukan model Ali Sadikin yang galak dan doyan menampar orang. Tapi kecerdasan, kejujuran, dan keuletannya perlu untuk memimpin kota ini supaya nggak tambah busuk. Pemimpin yang bisa jadi panutan. Administrator kota. Bukan pembangunan megah yang diperlukan, tapi kebersamaan untuk merawat kota. 

Dan merawat kota itu perlu memperhatikan hal-hal dasar yang realistis yang jadi kegelisahan warganya. Dalam konsep membangun Jakarta sebagai kota beradab, yang tidak krisis air, tingkat kemacetan jalan minimum, penegakan hukum untuk rasa aman berekspresi, efisiensi birokrasi layanan publik, tentunya perlu memberi perhatian terhadap restorasi untuk revitalisasi museum. Kenapa penting? Museum itu tempat anak muda belajar sejarah budaya bangsa dan negaranya. Tataran mindset cari untung dan konsumtif anak muda metropolitan harusnya diimbangi dengan hati yang empathic, yang tidak berjarak pada pemahaman kondisi sosial di luar kelasnya, yang dibentuk oleh pembelajaran sastra, budaya, seni dan sejarah. Saya senang sekali mengetahui tim Faisal-Biem memikirkan hal ini juga dengan memasukkan restorasi museum dalam program mereka. 

Berkat ini pula, saya sekarang sudah tidak dalam fase simpati lagi (seperti waktu pengumpulan copy KTP untuk verifikasi KPU), namun empati. Dengan semangat mengoreksi partai yang sudah melenceng jauh dari sejatinya mendengarkan konstituennya, tim Faisal-Biem telah berhasil menciptakan basis konstituen yang solid dan nyata, yang memahami tantangan menjadi kelompok independen dan terus mendorong terjadinya perubahan. Saya adalah bagian dari basis konstituen itu, saya ingin ikut bantu mereka meraih kursi DKI 1 dengan memilih mereka saat di balik bilik Pilkada. 

So to sum it up, kenapa saya dukung Faisal-Biem? 

1. Konsep Berdaya Bareng-bareng, pengorganisiran warga yang tulus untuk kepentingan bersama. 
2. Karakternya yang tegas, berintegritas, dan sederhana.
3. Program-program yang ditawarkan sesuai dengan keinginan saya sebagai warga Jakarta yang peduli dengan pendidikan budaya. 


disclaimer:

Saya bukan bagian tim sukses Faisal-Biem. Partisipasi saya dalam video aspirasi untuk Faisal-Biem dan juga tulisan ini merupakan ekspresi pribadi saya.