February 2012
4 posts
When it’s going well, the fact of it is everywhere. It’s there in the song that shuffles into your ears. It’s there in the book you’re reading. It’s there on the shelves of the store as you reach for a towel and forget about the towel. It’s there as you open the door. As you stare off on the subway, it’s what you’re looking at. You wear it on the inside of your hat. It lines your pockets. It’s the temperature.
The hitch, of course, is that when it’s going badly, it’s in all the same places.
” —UBIQUITOUS, adjective - David LevithanTadi malam saya melontarkan pertanyaan via twitter. Apa yang membuat anak muda strategis bagi gerakan anti korupsi? Iseng aja sih, pengen tau juga, sekali-kali agak serius di channel yang satu itu seperti apa responnya. Ternyata lumayan! Tadinya saya mau posting tulisan ini di twitter, sebagai tanggapan atas pendapat yang bersambut atas pertanyaan saya. Berhubung agak panjang, jadi saya taruh di sini aja. Selamat membaca.
Gimana pendapat yang masuk via twitter? Iya, anak muda dipandang kelompok strategis bagi gerakan anti korupsi. Dari 8 penanggap, ngga satu pun yang bantah. Ada satu orang, yang setelah saya challenge sedikit, jawabannya agak-agak non sequitur, alias malah ngga nyambung. Anyway, banyak jawaban yang orientasinya masa mendatang. Anak muda generasi penerus, akan gantiin kepemimpinan. Ada harapan, pada saatnya mengubah dunia. Intinya, hasil baru bisa dinikmati di masa mendatang. Jawaban standar penuh idealisme, memang. Yang sayangnya cukup sering dimunculkan di ruang-ruang kelas seperti diajarkan jadi jawaban otomatis, sehingga terasa banal. Tapi @aniwahyu melihatnya lebih cerdas, menurutnya anak muda bukan sekedar kelompok pasif yang diberi edukasi lalu hasilnya dipetik di masa depan. Di masa ini (orientasi kini), anak muda sendiri bisa langsung bergerak, pengaruhi kelompok muda lainnya, bahkan orang tua, guru, dosen. Viral effect. Untuk bisa ‘menularkan’, caranya seperti yang disinggung @puputtripeni, dengan organisasi. Tapi menurut saya organisasi harus dilihat sebagai entitas yang lebih aktif lagi. Anak muda bukan hanya belajar di dalamnya tapi juga harus bisa pengaruhi ke luar. Kemampuan mengorganisir ini jadi penting, misalnya untuk cerita @nengayuu tentang anak muda baru mulai kerja di instansi selalu tunduk atasan, padahal ini nggak selalu baik. Kalau seluruh anak muda di instansi itu bergabung bentuk aliansi, misal aliansi Muda Berani (termasuk berani idup seadanya karena ngga terima suap), sebagai sebuah kelompok ada kekuatan bersama untuk menciptakan tekanan (dari bawah, lebih bagus lagi kalau ajak setingkat atasan ikutan gabung juga). Tekanannya jadi lebih praktis. Contoh, Sekretaris tahu atasannya pergi ke luar kota bukan urusan pekerjaan, dia bisa menolak pengaturan travelnya. Saat ia ditekan, kawan-kawan aliansi menciptakan tekanan kembali dengan rilis statement dan kirim report resmi untuk ‘melindungi’. Di sini si sekretaris jadi punya daya tawar untuk lakukan penolakannya, ia nggak sendirian.
Logika yang sama berlaku untuk @clubSPEAK.
Kami yakin banyak anak muda yang kesal banget dengan kondisi korup di sekolah, jalan, rumah, kampus. Tapi kebanyakan seolah sendiri-sendiri aja di lingkungan masing-masing, sehingga merasa kecil. Kami membuat ‘rumah’, bernama @clubSPEAK, untuk anak muda yang seiman integritasnya (sebelnya sama korupsi) agar ketemu dan saling berbagi gagasan tentang langkah konkrit yang bisa dilakukan anak muda dan konkrit juga jalankan itu. Rumah ini terus mengalami perkembangan. Kamarnya bertambah terus. Awalnya hanya campaign (sekarang berkembang jadi SpeakFest). Lalu ada ruang workshop tempat kita bersama menggodok ide, lalu menjalankannya dalam aksi konkrit (@citalangit salah satu alumnus workshop kita) - ruang ini sekarang dalam renovasi, akan menjadi Speak Institute dengan periode belajar analisa sosial dan paparan gagasan lebih intensif. Ada penambahan juga, ruang Speak Goes to School, tempat anak muda yang mau memperkuat OSIS dengan prinsip transparansi dan akuntabilitas untuk kerja-kerja program mereka. Ruang diskusi bulanan, bernama Speak Forum, tempat anak muda memperkaya pengetahuan umum, berhubungan dengan sejarah Indonesia yang terdistorsi, atau tentang kondisi gerakan anak muda terkini. Ada 3 kamar lainnya yang energinya disalurkan sebagai backbone 4 kamar yang disebutkan sebelumnya, admin & keuangan, PR & fundraising, dan PI alias Pengembangan Internal yang salah satu tugasnya setiap minggu menciptakan diskusi-diskusi bergizi dalam pertemuan clubSpeak.
Kami berusaha melakukan sesuatu untuk memahami masalah ini dan melakukan langkah-langkah konkrit yang kami tahu kami mampu lakukan. Memperkuat diri dengan pengetahuan & practical skill. Kami meninjau pengetahuan di ranah politik yang selama ini sering dialergikan anak muda (faktor kepungan gaya hidup hedonis/materialistis). Meninjau pengetahuan tentang sistem pendidikan yang ada yang ternyata banyak melemahkan daya kritis kami. Juga melihat kembali bagaimana media yang banyak bombardir dengan ekspose masalah dan melenakan masyarakat dengan cerita koruptor negara layaknya gosip-gosip selebriti. Apakah usaha kami ini strategis? Jelas. Karena pemahaman yang kami miliki menular. Resources kami banyak. Teknologi sangat mendukung. Saat anggota clubSPEAK kembali ke lingkup masing-masing, di kampus, sekolah, atau rumah, mereka bisa melihat lebih kritis kondisi yang ada dan mendorong terjadinya perubahan sistem yang lebih transparan, lebih bertanggung jawab. Saat yang satu terbelit dilema, kami saling menguatkan dan bantu mencari solusi. Saling menyemangati.
Pertanyaannya kemudian, bisakah ini jadi cukup besar untuk mengubah Indonesia? Dengan inisiatif dan bantuan teman-teman, pasti bisa. Saat ini memang kami masih sebagai komunitas kecil di Jakarta. Pengalaman kami baru selingkup Jakarta, dan banyak langkah kami masih tahap trial and error. Tapi yakin, semangat kami juga banyak dimiliki anak muda lain di penjuru Indonesia. Lewat tulisan ini saya ingin serukan ke teman-teman di luar sana, bahwa jika kamu cukup peduli untuk dapatkan layanan publik yang baik (edukasi - fasilitas sekolah, transportasi - jalanan yang nggak bolong atau macet, administrasi - birokrasi yang nyaman ramah, bikin KTP asik), bahkan yang personal sekalipun seperti transparansi keuangan dalam keluarga, kamu juga bisa lakukan sesuatu. Yakini diri bahwa memang ada perubahan yang kamu ingin lihat. Claim that in yourself. Fight for it. Get your friends to support you. Ciptakan komunitasmu sendiri. Berjejaringlah dengan kami. Letupan-letupan kecil menciptakan gangguan-gangguan kecil, yang saat terjadi di banyak tempat, akan punya momentumnya sendiri, mencapai titik didihnya dan membalikkan keadaan.
Dan itu membawa kita pada pertanyaan selanjutnya, apakah kamu mau ciptakan perubahan, konkrit? (negara ini ngga perlu lagi janji-janji kosong seperti orang-orang yang tampangnya banyak menghiasi baliho menjelang pilkada)
Oh ya, saya janji mau kirim e-book “The Barefoot Guide” buat yang udah kasih pendapat paling OK. Congratz buat @aniwahyu atas pendapatnya yang kritis dan @puputtripeni yang melihat organisasi sebagai entry point. Tolong kirimin saya email ya.. ke ishtar.bumi@gmail.com. Teman-teman lain kalau ingin diskusi lebih jauh juga bisa tinggalkan pesan lewat fitur blog ini. Terima kasih sudah membaca sampai selesai. Salam.