The Time is NOW

Month

May 2011

14 posts

May 26, 201120,985 notes
#inspiration #Shoko Tendo #tattoo #yakuza #Japanese
SUARA PEMUDA ANTI-KORUPSI (SPEAK): Diskusi Gerakan Anak Muda: Reformasi Indonesia 1998  → club-speak.tumblr.com

club-speak:

image

Youth Movement Discussion : Reformasi Indonesia ‘98

Kebebasan yang kita nikmati saat ini bukan suatu hal yang gratis jatuh dari langit, namun direbut dengan banyak pengorbanan. Peristiwa Mei 98 merupakan salah satu titik balik dari sejarah bangsa Indonesia, yang tadinya berada dibawah…

May 25, 20113 notes
#reblog #clubSPEAK #discussion #alex sihar #respito #wandy binyo #Mei 98 #TI Indonesia
May 22, 2011484 notes
#dive #reblog #photo
“

“If you give me a fish, you’ve given me food for 1 day.

If you teach me fishing, then you have fed me until the river is contaminated or the shoreline is shrinking due to development.

But if you teach me how to organize, then whatever the challenge, I can join my colleagues and we will try find our own solutions.”

”
—

Northland Posters Association, Barefoot Guide

Indonesian translation:

Jika kamu beri saya ikan, kamu sudah memberi saya makan untuk 1 hari - Jika kamu ajari saya memancing, maka kamu sudah memberi saya makan sampai sungai itu tercemar atau garis pantainya menyusut karena pembangunan - Namun jika kamu ajari saya bagaimana berorganisasi, maka apa pun tantangannya, saya dapat bergabung dengan rekan-rekan saya dan kami akan berupaya mencari solusi kami

May 20, 20119 notes
#quote #inspiration #barefoot guide #organizational #social movement #self empowerment
Play
May 16, 20111 note
#self-note #uplifting moments #inspiration
May 13, 2011288 notes
#animation #flying fish #english post #imagination
“

Seniman itu sekarang glamour friend.
Tapi kalo slebornya sih emang kagak pernah ilang.

(Artists are now glamour, friend.
But the disorganized part, well, that’s never gonna fade)

”
—Jimi Multhazam of The Upstairs and Morfem Band, about how artist so identical with being poor. Taken from his WP.
May 12, 2011
#quote #Jimi Multhazam #bahasa indonesia #reflection
Stay Hungry, Stay Foolish! → inspiritinc.com

Pidato Steve Jobs buat wisudawan Stanford, ditulis kembali oleh Mas Dani Moenggoro.

Sederhana, 3 cerita pendek, tapi sangat menginspirasi. 

Wajib baca buat siapa saja yang sedang mengejar mimpi!

Saya merasa bangga di tengah-tengah Anda sekarang, yang akan segera lulus dari salah satu universitas terbaik di dunia. Saya tidak pernah selesai kuliah. Sejujurnya, baru saat inilah saya merasakan suasana wisuda. Hari ini saya akan menyampaikan tiga cerita pengalaman hidup saya. Ya, tidak perlu banyak. Cukup tiga.

Cerita Pertama: Menghubungkan Titik-Titik.

Saya drop out (DO) dari Reed College setelah semester pertama, namun saya tetap berkutat di situ sampai 18 bulan kemudian, sebelum betul-betul putus kuliah. Mengapa saya DO?
Kisahnya dimulai sebelum saya lahir. Ibu kandung saya adalah mahasiswi belia yang hamil karena “kecelakaan” dan memberikan saya kepada seseorang untuk diadopsi. Dia bertekad bahwa saya harus diadopsi oleh keluarga sarjana, maka saya pun diperjanjikan untuk dipungut anak semenjak lahir oleh seorang pengacara dan istrinya. Sialnya, begitu saya lahir, tiba-tiba mereka berubah pikiran karena ingin bayi perempuan. Maka orang tua saya sekarang, yang ada di daftar urut berikutnya, mendapatkan telepon larut malam dari seseorang: “kami punya bayi laki-laki yang batal dipungut; apakah Anda berminat? Mereka menjawab: “Tentu saja.” Ibu kandung saya lalu mengetahui bahwa ibu angkat saya tidak pernah lulus kuliah dan ayah angkat saya bahkan tidak tamat SMA. Dia menolak menandatangani perjanjian adopsi. Sikapnya baru melunak beberapa bulan kemudian, setelah orang tua saya berjanji akan menyekolahkan saya sampai perguruan tinggi.

Dan, 17 tahun kemudian saya betul-betul kuliah. Namun, dengan naifnya saya memilih universitas yang hampir sama mahalnya dengan Stanford, sehingga seluruh tabungan orang tua saya– yang hanya pegawai rendahan– habis untuk biaya kuliah. Setelah enam bulan, saya tidak melihat manfaatnya. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan dalam hidup saya dan bagaimana kuliah akan membantu saya menemukannya. Saya sudah menghabiskan seluruh tabungan yang dikumpulkan orang tua saya seumur hidup mereka. Maka, saya pun memutuskan berhenti kuliah, yakin bahwa itu yang terbaik. Saat itu rasanya menakutkan, namun sekarang saya menganggapnya sebagai keputusan terbaik yang pernah saya ambil.

Begitu DO, saya langsung berhenti mengambil kelas wajib yang tidak saya minati dan mulai mengikuti perkuliahan yang saya sukai.

Masa-masa itu tidak selalu menyenangkan. Saya tidak punya kamar kos sehingga nebeng tidur di lantai kamar teman-teman saya. Saya mengembalikan botol Coca-Cola agar dapat pengembalian 5 sen untuk membeli makanan. Saya berjalan 7 mil melintasi kota setiap Minggu malam untuk mendapat makanan enak di biara Hare Krishna. Saya menikmatinya. Dan banyak yang saya temui saat itu karena mengikuti rasa ingin tahu dan intuisi, ternyata kemudian sangat berharga. Saya beri Anda satu contoh:
Reed College mungkin waktu itu adalah yang terbaik di AS dalam hal kaligrafi. Di seluruh penjuru kampus, setiap poster, label, dan petunjuk ditulis tangan dengan sangat indahnya. Karena sudah DO, saya tidak harus mengikuti perkuliahan normal. Saya memutuskan mengikuti kelas kaligrafi guna mempelajarinya. Saya belajar jenis-jenis huruf serif dan san serif, membuat variasi spasi antar kombinasi kata dan kiat membuat tipografi yang hebat. Semua itu merupakan kombinasi cita rasa keindahan, sejarah dan seni yang tidak dapat ditangkap melalui sains. Sangat menakjubkan.

Saat itu sama sekali tidak terlihat manfaat kaligrafi bagi kehidupan saya. Namun sepuluh tahun kemudian, ketika kami mendisain komputer Macintosh yang pertama, ilmu itu sangat bermanfaat. Mac adalah komputer pertama yang bertipografi cantik. Seandainya saya tidak DO dan mengambil kelas kaligrafi, Mac tidak akan memiliki sedemikian banyak huruf yang beragam bentuk dan proporsinya. Dan karena Windows menjiplak Mac, maka tidak ada PC yang seperti itu. Andaikata saya tidak DO, saya tidak berkesempatan mengambil kelas kaligrafi, dan PC tidak memiliki tipografi yang indah. Tentu saja, tidak mungkin merangkai cerita seperti itu sewaktu saya masih kuliah. Namun, sepuluh tahun kemudian segala sesuatunya menjadi gamblang.

Sekali lagi, Anda tidak akan dapat merangkai titik dengan melihat ke depan; Anda hanya bisa melakukannya dengan merenung ke belakang. Jadi, Anda harus percaya bahwa titik-titik Anda bagaimana pun akan terangkai di masa mendatang. Anda harus percaya dengan intuisi, takdir, jalan hidup, karma Anda, atau istilah apa pun lainnya. Pendekatan ini efektif dan membuat banyak perbedaan dalam kehidupan saya.

 
Cerita Kedua Saya: Cinta dan Kehilangan.

Saya beruntung karena tahu apa yang saya sukai sejak masih muda. Woz dan saya mengawali Apple di garasi orang tua saya ketika saya berumur 20 tahun. Kami bekerja keras dan dalam 10 tahun Apple berkembang dari hanya kami berdua menjadi perusahaan 2 milyar dolar dengan 4000 karyawan. Kami baru meluncurkan produk terbaik kami–Macintosh–satu tahun sebelumnya, dan saya baru menginjak usia 30. Dan saya dipecat. Bagaimana mungkin Anda dipecat oleh perusahaan yang Anda dirikan? Yah, itulah yang terjadi. Seiring pertumbuhan Apple, kami merekrut orang yang saya pikir sangat berkompeten untuk menjalankan perusahaan bersama saya. Dalam satu tahun pertama,semua berjalan lancar. Namun, kemudian muncul perbedaan dalam visi kami mengenai masa depan dan kami sulit disatukan. Komisaris ternyata berpihak padanya. Demikianlah, di usia 30 saya tertendang. Beritanya ada di mana-mana. Apa yang menjadi fokus sepanjang masa dewasa saya, tiba-tiba sirna. Sungguh menyakitkan.

Dalam beberapa bulan kemudian, saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Saya merasa telah mengecewakan banyak wirausahawan generasi sebelumnya –saya gagal mengambil kesempatan. Saya bertemu dengan David Packard dan Bob Noyce dan meminta maaf atas keterpurukan saya. Saya menjadi tokoh publik yang gagal, dan bahkan berpikir untuk lari dari Silicon Valley. Namun, sedikit demi sedikit semangat timbul kembali– saya masih menyukai pekerjaan saya. Apa yang terjadi di Apple sedikit pun tidak mengubah saya. Saya telah ditolak, namun saya tetap cinta. Maka, saya putuskan untuk mulai lagi dari awal.

Waktu itu saya tidak melihatnya, namun belakangan baru saya sadari bahwa dipecat dari Apple adalah kejadian terbaik yang menimpa saya. Beban berat sebagai orang sukses tergantikan oleh keleluasaan sebagai pemula, segala sesuatunya lebih tidak jelas. Hal itu mengantarkan saya pada periode paling kreatif dalam hidup saya.

Dalam lima tahun berikutnya, saya mendirikan perusahaan bernama NeXT, lalu Pixar, dan jatuh cinta dengan wanita istimewa yang kemudian menjadi istri saya. Pixar bertumbuh menjadi perusahaan yang menciptakan film animasi komputer pertama, Toy Story, dan sekarang merupakan studio animasi paling sukses di dunia. Melalui rangkaian peristiwa yang menakjubkan, Apple membeli NeXT, dan saya kembali lagi ke Apple, dan teknologi yang kami kembangkan di NeXT menjadi jantung bagi kebangkitan kembali Apple. Dan, Laurene dan saya memiliki keluarga yang luar biasa.

Saya yakin takdir di atas tidak terjadi bila saya tidak dipecat dari Apple. Obatnya memang pahit, namun sebagai pasien saya memerlukannya. Kadangkala kehidupan menimpakan batu ke kepala Anda. Jangan kehilangan kepercayaan. Saya yakin bahwa satu-satunya yang membuat saya terus berusaha adalah karena saya menyukai apa yang saya lakukan. Anda harus menemukan apa yang Anda sukai. Itu berlaku baik untuk pekerjaan maupun pasangan hidup Anda. Pekerjaan Anda akan menghabiskan sebagian besar hidup Anda, dan kepuasan sejati hanya dapat diraih dengan mengerjakan sesuatu yang hebat. Dan Anda hanya bisa hebat bila mengerjakan apa yang Anda sukai. Bila Anda belum menemukannya, teruslah mencari. Jangan menyerah. Hati Anda akan mengatakan bila Anda telah menemukannya. Sebagaimana halnya dengan hubungan hebat lainnya, semakin lama- semakin mesra Anda dengannya. Jadi, teruslah mencari sampai ketemu. Jangan berhenti. 


Cerita Ketiga Saya: Kematian

Ketika saya berumur 17, saya membaca ungkapan yang kurang lebih berbunyi: “Bila kamu menjalani hidup seolah-olah hari itu adalah hari terakhirmu, maka suatu hari kamu akan benar.” Ungkapan itu membekas dalam diri saya, dan semenjak saat itu, selama 33 tahun terakhir, saya selalu melihat ke cermin setiap pagi dan bertanya kepada diri sendiri: “Bila ini adalah hari terakhir saya, apakah saya tetap melakukan apa yang akan saya lakukan hari ini?” Bila jawabannya selalu “tidak” dalam beberapa hari berturut-turut, saya tahu saya harus berubah.

Mengingat bahwa saya akan segera mati adalah kiat penting yang saya temukan untuk membantu membuat keputusan besar. Karena hampir segala sesuatu–semua harapan eksternal, kebanggaan, takhut malu atau gagal–tidak lagi bermanfaat saat menghadapi kematian. Hanya yang hakiki yang tetap ada. Mengingat kematian adalah cara terbaik yang saya tahu untuk menghindari jebakan berpikir bahwa Anda akan kehilangan sesuatu. Anda tidak memiliki apa-apa. Sama sekali tidak ada alasan untuk tidak mengikuti kata hati Anda.

Sekitar setahun yang lalu saya didiagnosis mengidap kanker. Saya menjalani scan pukul 7:30 pagi dan hasilnya jelas menunjukkan saya memiliki tumor pankreas. Saya bahkan tidak tahu apa itu pankreas. Para dokter mengatakan kepada saya bahwa hampir pasti jenisnya adalah yang tidak dapat diobati. Harapan hidup saya tidak lebih dari 3-6 bulan. Dokter menyarankan saya pulang ke rumah dan membereskan segala sesuatunya, yang merupakan sinyal dokter agar saya bersiap mati. Artinya, Anda harus menyampaikan kepada anak Anda dalam beberapa menit segala hal yang Anda rencanakan dalam sepuluh tahun mendatang. Artinya, memastikan bahwa segalanya diatur agar mudah bagi keluarga Anda. Artinya, Anda harus mengucapkan selamat tinggal.

Sepanjang hari itu saya menjalani hidup berdasarkan diagnosis tersebut. Malam harinya, mereka memasukkan endoskopi ke tenggorokan, lalu ke perut dan lambung, memasukkan jarum ke pankreas saya dan mengambil beberapa sel tumor. Saya dibius, namun istri saya, yang ada di sana, mengatakan bahwa ketika melihat selnya di bawah mikroskop, para dokter menangis mengetahui bahwa jenisnya adalah kanker pankreas yang sangat jarang, namun bisa diatasi dengan operasi. Saya dioperasi dan sehat sampai sekarang.

Itu adalah rekor terdekat saya dengan kematian dan berharap terus begitu hingga beberapa dekade lagi. Setelah melalui pengalaman tersebut, sekarang saya bisa katakan dengan yakin kepada Anda bahwa menurut konsep pikiran, kematian adalah hal yang berguna:
Tidak ada orang yang ingin mati. Bahkan orang yang ingin masuk surga pun tidak ingin mati dulu untuk mencapainya. Namun, kematian pasti menghampiri kita. Tidak ada yang bisa mengelak. Dan, memang harus demikian, karena kematian adalah buah terbaik dari kehidupan. Kematian membuat hidup berputar. Dengannya maka yang tua menyingkir untuk digantikan yang muda. Maaf bila terlalu dramatis menyampaikannya, namun memang begitu.

Waktu Anda terbatas, jadi jangan sia-siakan dengan menjalani hidup orang lain. Jangan terperangkap dengan dogma–yaitu hidup bersandar pada hasil pemikiran orang lain. Jangan biarkan omongan orang menulikan Anda sehingga tidak mendengar kata hati Anda. Dan yang terpenting, miliki keberanian untuk mengikuti kata hati dan intuisi Anda, maka Anda pun akan sampai pada apa yang Anda inginkan. Semua hal lainnya hanya nomor dua.

Ketika saya masih muda, ada satu penerbitan hebat yang bernama “The Whole Earth Catalog”, yang menjadi salah satu buku pintar generasi saya. Buku itu diciptakan oleh seorang bernama Stewart Brand yang tinggal tidak jauh dari sini di Menlo Park, dan dia membuatnya sedemikian menarik dengan sentuhan puitisnya. Waktu itu akhir 1960-an, sebelum era komputer dan desktop publishing, jadi semuanya dibuat dengan mesin tik, gunting, dan kamera polaroid. Mungkin seperti Google dalam bentuk kertas, 35 tahun sebelum kelahiran Google: isinya padat dengan tips-tips ideal dan ungkapan-ungkapan hebat.

Stewart dan timnya sempat menerbitkan beberapa edisi “The Whole Earth Catalog”, dan ketika mencapai titik ajalnya, mereka membuat edisi terakhir. Saat itu pertengahan 1970-an dan saya masih seusia Anda. Di sampul belakang edisi terakhir itu ada satu foto jalan pedesaan di pagi hari, jenis yang mungkin Anda lalui jika suka bertualang. Di bawahnya ada kata-kata: “Stay Hungry. Stay Foolish.” (Jangan Pernah Puas. Selalu Merasa Bodoh). Itulah pesan perpisahan yang dibubuhi tanda tangan mereka. Stay Hungry. Stay Foolish. Saya selalu mengharapkan diri saya begitu. Dan sekarang, karena Anda akan lulus untuk memulai kehidupan baru, saya harapkan Anda juga begitu.

Stay Hungry. Stay Foolish.

May 11, 20111 note
#uplifting moments #Steve Jobs #inspiration #bahasa indonesia #self-note
May 11, 20119,726 notes
#activism #english post #reblog #self-note #strategy #weapon #youth #social movement
Facilitating cross-cultural Workshop

(More detailed writing - a mash up, to be precise - read on Voices Against Corruption web)

image

Me & Dwi Rahardiani aka Duy - pointing poster concept designed to help raise awareness about integrity for youth in elementary school, made in collaboration by Indonesian and Vietnamese youth. 

We’ve been working together as facilitator tag-team in clubSPEAK workshop using Vibrant method. Not just helping participants with the sessions, but we both made several discoveries too! Like, how good it is to have a team (even if it’s just 1 person) that knows exactly what to do and can back up 100% creatively in the process. Duy’s discoveries you can find out in her note.   

The fun part was actually doing session plan. That was when we design how the workshop will roll and planning other backup activities that would still has the same effect if plan A didn’t work. At first I was gonna throw the typical anti-corruption knowledge session, the kind that @clubSPEAK hold almost every week recently. Then Chi, who’s in charge for having the Vietnamese youth ambassadors come to Indonesia, sent a notice that they prefer having the workshop “toned down”. We then shifted gear, changing the outcome to ‘promoting integrity and transparency’ action plan.  

First day workshop, a well facilitated discover session as always helped a lot in breaking down barrier walls within each participant to extend their personal borders. They now can wholeheartedly create change. Everyone was very grateful, some even said the session was “life changing”. This is exactly why it’s so important to invest time into self-discovery! The rest of workshop was smooth sailing. And another good outcome, as planned, these participants were very happy interacting cross-culturally even though we customized the content lighter. Highlight for one particular Vietnamese participant who even designed quite elaborate action plan! I was so happy discussing her plan quite thoroughly. 

image

Facilitating different cultures turned out was really ain’t that difficult, because everybody has the same spirit in fighting what’s happening in respective countries. And I’m really happy that we were able to become good host to exchange critical ideas with rich cultural experience from the Vietnamese. 

Now I’m munching coconut candies, while waiting further detail from each workshop participant about their individual action plan in campaigning integrity and transparency in their own surroundings. It should be interesting to see how things going to develop in the next 3-6 months. Who knows maybe Vietnamese revolution is in the making, or better yet.. Indonesian’s! ;0)

May 9, 20112 notes
#TT Vietnam #Duy #clubSPEAK #workshop #youth #activism #Vibrant method #facilitation #inspiration #english post
GYAC's GCB - Global Coordinating Body

Activists, journalists, and musicians (corruption fighters as my friend Felix Weth says) gather last April 2011 in Nairobi Kenya to discuss GYAC form and its independent sustainability. Long discussion, long process.

image

Hats off to our Cameroon friend, Emmanuel Sanyi (right, in green - helped by Barrie of Sierra Leone and Rosen of Bulgary) who was very patient facilitating us. Imagine having groups of critical yet busy participants agreeing on basic organizational points using just simple tool of word documents projected to screen (and the electricity often was off too!). Thanks to Emmanuel we were able to scrutinize one point at a time without killing each other (or at least not holding grudge to the group that made the recommendation points).

image

Fanta Daboh, of Restless Development Sierra Leone, expressing her opinion on GYAC identity.  

So here it is, as noted by Gina Romero of Ocasa Colombia (or download here) :

IDENTITY

A global informal, structured network of youth organizations, youth activists, journalists, artists fighting against corruptionand promoting good governance.

VISION

A world where corruption is curbed and young people contribute to and enjoy a dignified life of integrity.

MISSION

Empowering young people and promoting innovation in the fight against corruption.

OBJECTIVES

Facilitate knowledge and technology exchange in global arena for the fight against corruption Strengthening international solidarity for regional and local struggles in the fight against corruption

Promote documentation of local, regional and global anticorruption initiatives

To promote the use of music, the arts and alternative media as cultural components against corruption.

Empower young people to participate in public policy making, promoting good governance and public accountability.  

STRUCTURE

image

GCB: identify work groups, technical assistance and other things…

1.      Africa: Laurent Gabi Wambo (Cameroon)

2.      America: Emmanuel Callejas (Guatemala)

3.      Europe: Dona Kosturanova (Macedonia)

4.      Middle East: Raghda Allouche (Lebanon)

5.      East Asia and Pacific: Gibby Gorres (Philippines)

6.      South Asia: Narayan Adhikari (Nepal)

7.      Journalist: Joseph Mansilla

8.      ICT expert: Marlon Cornelio

 

image

(left-right: Dona, Raghda, Gabi, Emmanuel, Narayan, Gibby, Joseph, Marlon and Emmanuel Sanyi in green)


TOR GCB

Four months to work in the ToR and send us the draft. We have one month to comment and in the next four months they will send the pre final document.

To develop the action plan creating technical/professional working groups.

Coordinate and manage the network.

==

I am looking forward for Gibby’s next step as RCB representative from East Asia Pacific. Further personal insights of how the process went, read Felix Weth’s writing here

All pictures are courtesy of Felix Weth, except the structure picture (that I took myself with content adapted from Gina’s note). 

May 8, 201110 notes
#GYAC #Nairobi #activism #organizational #inspiration #english post
Inspirasi dari GYAC Nairobi

Akhirnya di GYAC Nairobi saya dapat yang saya mau. Inspirasi, semangat, suntikan ide dan kreativitas.  

image

Di hari pertama GYAC Nairobi kami dibombardir bermacam-macam ide ICT (Information and Communication Technology) untuk peningkatan partisipasi masyarakat mengawasi negara (bisa via SMS atau internet), menarik tapi jujur agak membosankan karena cara membawakannya sangat datar.

Kesenangan saya bertumpuk di hari ke-2. Pertama, presentasi dari Restless Development cabang Sierra Leone, dibawakan oleh Alfred dan Fanta yang bukan kebetulan juga teman-teman saya di grup diskusi Cultural Music for Awareness.

Restless Development logo

Mereka menggunakan pendekatan non-formal untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya kesadaran politik, dan keterlibatan aktif anak muda sebagai populasi terpenting masyarakat dalam pengawasan. Anak muda yang disasar kebanyakan adalah mereka yang tak terjangkau pemerintah, karena fokus wilayah kerja Restless Development adalah daerah konflik. Daripada anak muda turun ke jalan bawa senjata jadi tentara bawah umur, lebih baik belajar jadi pemimpin, melawan dengan cara damai. Cara apa yang dipakai Fanta dan Alfred? Selain latihan kepemimpinan, ada kampanye peningkatan kesadaran lewat tarian, lagu, dan drama. Keren banget! Rencana ke depan mereka akan bikin album kompilasi lagu-lagu anti korupsi kental unsur budaya, yang didistribusikan gratis. Lebih lengkap tentang Restless Development, lihat web ini. 

The cool caucus!

Fanta dan Alfred ada di foto atas ini. Bisa tebak yang mana? Grup diskusi kami (tentang use of Culture Music) terdiri dari aktivis lintas kontinen. Hungaria, Yordania, Indonesia, Bulgaria, Lithuania, Sierra Leone, Armenia.

OCASA logo

Hal menarik kedua, presentasi OCASA dari Gina dan Xiomara - teman-teman dari Kolombia. Kegiatan yang mereka lakukan mirip sekali dengan social venture workshop yang sedang dilakukan clubSpeak. Mereka ajak anak muda peserta workshop merencanakan kegiatan utnuk mendukung demokrasi yang lebih transparan di Kolombia. Kegiatan yang direncanakan pun sangat detail hingga tahap budgeting. Seperti Restless Development, pendekatan non-formal yang mereka lakukan untuk mendorong partisipasi aktif anak muda agar lebih peduli terhadap proses legislasi dan manajemen pemerintahan. Satu contoh hasilnya ada program radio buatan anak usia 14 tahun yang menyediakan ruang bagi masyarakat berdialog langsung dengan politisi. Sebagai konstituen ruang ini jadi tempat proses check & balance terhadap usaha-usaha yang dilakukan pemerintah dalam menyediakan fasilitas umum. Yang menarik, Ocasa lahir tahun 2003 atas inisiatif anak-anak muda usia 19-21 tahun. Di tahunnya yang ke-8, Ocasa berhasil menjadi organisasi yang matang dan konsisten menjalankan misi utamanya, yaitu mendorong sebanyak mungkin keterlibatan anak muda dalam proses demokrasi yang transparan. Sekarang para pendirinya udah di usia 28-30 tahun, dan semangat mereka waktu presentasi sangat terasa. I know for sure Gina and Xiomara are very passionate with what they’re doing. Hebat sekali. They have exact same concerns as well as seeing things as opportunity as I do. Tahun 2006, direktur eksekutif Ocasa, Nicolas Hernandez mendapat penghargaan sebagai Fellow Ashoka. Ini cukup membuktikan sepak terjang mereka dalam menciptakan perubahan karena Ashoka tidak sembarangan memberi titel ‘Fellow’. Saya ingin sekali lihat clubSPEAK dalam 8 tahun bisa sebesar mereka. Sejarah OCASA dan kegiatannya bisa dibaca di sini (siapkan google translate, karena ditulis dalam bahasa Spanyol).

Di hari ke-2 sebetulnya saya ngga ikutan sesi group gara-gara menyiapkan presentasi buat sesi penutup acara di hari ke-3. Saya baru eksis lagi di Forum saat makan malam, untungnya masih sempat dapat update dari Fanta Badoh tentang hasil rekomendasi di grup diskusi “Use of Cultural Music in Raising Awareness”. Esok paginya hasil diskusi grup kami kembali dipertajam. Rekomendasi yang kami hasilkan jika betul dilakukan serius oleh seluruh anggota Forum saat kembali ke negara masing-masing, hasilnya bisa sangat dahsyat! Ini hal menarik utama ketiga yang saya dapatkan di GYAC Nairobi. Lalu apa isi rekomendasi kami? Langkah-langkah untuk mengkolaborasikan seni ke dalam gerakan anti korupsi. Yang utama adalah identifikasi jenis seni yang dipakai dan pesan kunci yang mau disampaikan. Tapi saya pikir sekedar mengajak teman-teman seniman tidak cukup. Bareng Linas, teman dari Lithuania, dan Kate Declerck dari Jeuneses Musicales, kami coba explore lebih jauh lagi cara-cara mainstreaming (=mengarusutamakan) pesan yang kita punya bersamaan dengan karya seni tersebut. Beberapa ide yang muncul, misalnya, mendekati media elektronik global anak muda tingkat regional (seperti MTV atau NatGeo Music bagian Asia Pasifik), mengajak bikin program mingguan menggunakan musik-musik sosial. JMI sudah punya banyak video klipnya, tinggal bantuan untuk bridging ke industri mainstream, dan ini bisa dilakukan oleh anggota jaringan GYAC di masing-masing negaranya. 

image

Oh ya, ada satu ide lagi yang sempat saya diskusikan sama Bunga. Berhubung ada rencana mengirim e-newsletter pada tiap delegasi, bulanan, saya pikir kalau ada seruan video dari setiap beberapa peserta konferensi tentang.. let’s say, hal-hal menarik yang terjadi di Nairobi, video itu pasti akan membangkitkan semangat lagi dari teman-teman lain dan ingat apa yang akan dijalankan bersama..

image

Di foto atas ini ada Jorge dari Peru yang dengan ributnya mengajak semua orang ikutan turun berdansa sementara teman-teman de Bruces a Mi dari Kolombia memainkan reggae di panggung.

Menarik kan? Saya yakin ini semua, dengan bakaran bensin semangat yang sama kuatnya seperti saat berkumpul di Nairobi, pasti cepat terwujud! 

Hey brothers and sisters unite.. Youth Power, People Power! 

May 6, 20113 notes
#GYAC #Nairobi #activism #youth #non-formal approach #music #inspiration #ideas #Ocasa #Restless Development #JMI #MTV #Bunga Manggiasih #NatGeo Music #Bahasa Indonesia
Langkah Segar clubSPEAK!

Ternyata goler-goleran di kasur seharian justru waktu yang sangat produktif bagi saya untuk berpikir. Keadaan antara sadar-tidur-sadar-setengah tidur lagi justru memacu bawah sadar otak lebih aktif cari solusi beberapa tantangan yang belum diselesaikan. Ngga nyangka juga ternyata obrolan-obrolan tentang tangga perubahan nyangkut di alam bawah sadar, karena hasilnya ada 5 langkah utama yang harus segera dilakukan buat bikin SPEAK lebih berkembang lagi dalam waktu dekat ini. 

image

  • Pertama, tentang identitas. Berkaca pada pengalaman GYAC kemarin, saya ingin menegaskan kembali identitas SPEAK supaya lebih dipahami para anggotanya. Caranya dengan mengaktifkan ide website yang sudah terpending selama setengah tahun. I am not going to delay more time into this. Target dalam 2 bulan up and running. Kerjanya simultan, sementara numpuk content tulisan di blog tumblr Speak, sambil merapikan sistem di interface yang baru. 
  • Kedua, tentang apa saja kegiatan SPEAK. Ketika berbagi cerita tentang GYAC ke Kang Teten, saya baru sadar organisasi yang fokus di anak muda atau pun yang dikelola oleh anak muda ternyata tidak semuanya punya gaya anak muda. Semua sangat serius di masing-masing bidang yang dijalaninya meskipun dengan gaya yang berbeda-beda. Bidang apa yang dilakukan SPEAK? ‘youth empowerment’. Dan menurut saya baik kalau semua anggota SPEAK Active punya social venture masing-masing di bidang anti-korupsi selain keaktifan mereka di SPEAK, malah bisa jadi contoh bagi anak muda di luar sana, sebelum kita ekspansi ke daerah lain. Bentuk kegiatannya mau awareness raising atau pun pengawasan, terserah minatnya aja mau yang mana, yang penting nyata dan punya dampak berkelanjutan. Saya suka banget dengan apa yang dilakukan teman baru saya, Widie, langkah yang dilakukan sangat konkrit. Lewat SPEAK skarang Widie mengembangkan kineklub bernama GAMBAR IDOEP. Saya semangat banget pengen ngedukung usahanya ini. Saya yakin banget Gambar Idoep akan banyak ngebantu anak muda lain di luar sana bisa lebih ekspresif mengungkap ide-ide baru untuk perbaikan sistem pendidikan Indonesia dan pengawasan korupsi di sekolah. 
  • Ketiga, bicara tentang ekspansi.. Saya punya target begitu Juni 2011 selesai, harus mulai ada 3-4 orang anak SPEAK Active yang dikirim ke luar kota, berjejaring di penjuru Jawa untuk memperkenalkan apa itu SPEAK dan bagaimana anak muda bisa buka cabang SPEAK di daerah masing-masing. Tapi inisiatif untuk membukanya harus datang dari anak muda di daerah itu sendiri. Kita hanya sediakan alat dan guidance teknis. 
  • Keempat, tentang recruitment volunteer SPEAK Active. Kita bisa mulai melakukannya dengan mengambil anak-anak yang sudah berinteraksi langsung dengan SPEAK lewat workshop atau SpeakFest. Existing SPEAK Active harus siap menjadi koordinator dari bidang apa pun itu yang dikembangkan (website, buku saku, pengajaran internal, online outreach, offline outreach, speakfest, cineclub, workshop social venture, branding SPEAK, fundraising through crowd funding). Yang bikin keren kan meskipun anak-anak ini aktif di SPEAK tapi masing-masing dari mereka juga punya social venture anti-korupsi :0)
  • Kelima, tentang fundraising. Saya senang banget bisa ketemu Duy dan teman-teman yang sering membantu pengembangan proposal pendanaan dengan metode AI yang fokus pada penggalian potensi dibanding pencarian masalah. Saya mau atur jadwal supaya SPEAK dan TII bisa duduk bareng untuk menuliskan rencana strategis 4-5 tahun ke depan termasuk mendetailkan pendanaan yang diperlukan untuk rencana aksi ini. Jumat malam berangkat, Senin pagi pulang.  Kapan waktunya? Masih saling mencocokkan jadwal. Yang pasti sebelum masuk bulan Juni. 

Absolutely no time for the weary.

Organic beings need organic approach that’s very dynamic!

May 6, 2011
#activism #clubSPEAK #Gambar Idoep #anti-corruption #reflection #youth #inspiration #ideas #Bahasa Indonesia
Ashoka Youth Intrapreneur

Was browsing some stuff to break the writer’s block (don’t we all have that). Then remembered that Ashoka Changemakers division here in Indonesia has taken liberty to rewrite my social venture idea. Although not 100% accurate, still it’s nice to read, makes me remember the original idea that started everything, and eventually got me to attend the GYAC in Nairobi. 

I thank Agni Yoga sincerely for the persistent approach to get me in Ashoka’s Youth Intrapreneur Program. It was lifechanging. 

image

So, here it is in bahasa Indonesia, taken from YCM Ashoka website :  

Retha Dungga

Region  : Jakarta

Tim/ Organisasi : SPEAK (Suara pemuda anti korupsi)

Gagasan : Gerakan life style pemuda anti korupsi

“SPEAK: Gerakan life style pemuda anti korupsi ”

Korupsi menjadi permasalahan yang pelik bagi bangsa ini. Pembahasan dan penyelesaian isu korupsi tidak hanya menjadi milik para elit politik, aktivitis LSM ataupun aktivis kampus yang notabene orang-orang yang telah berusia tua. Tanpa pretensi menapikan semangat jiwa muda pada orang-orang tua. Namun, sebaiknya semangat anti korupsi harus ditularkan dari anak muda, untuk anak muda, dan oleh anak muda. Memberikan penyadaran dan semangat anti korupsi kepada pemuda tentu harus disesuaikan dengan gaya khas anak muda berinteraksi dengan dunianya.

Bersama Transparancy International ia mencoba menularkan semangat anti korupsi melalui klab belajar yang dinamakan SPEAK: Suara Pemuda Anti Korupsi. Dalam klab SPEAK, anak muda belajar memahami sebab-akibat korupsi lewat diskusi mingguan. Anak muda mendapat peningkatan kapasitas untuk kemampuan riset, fasilitasi diskusi, pendampingan, dan kampanye isu. Lewat clubSPEAK anak muda menyatukan kekuatan untuk menyelesaikan masalah korupsi yang ada dalam lingkup terdekatnya, menciptakan tekanan sosial bagi pemerintah dan manajemen sekolah dalam menerapkan prinsip good-governance dalam mengelola negara dan pendidikan. ClubSPEAK memfasilitasi terjadinya diskusi ala anak muda yang ringan namun tepat esensi di sekolah-sekolah, mendorong terciptanya kesadaran tentang pentingnya anak muda bergerak melawan korupsi. Mereka yang tertarik bergerak diajak untuk menciptakan perubahan iklim keterbukaan informasi dengan sistem pendampingan dari aktivis muda yang sudah tergabung dalam clubSPEAK. Simultan dengan itu, clubSPEAK juga memfasilitasi anak muda membuat media alternatif untuk menampung informasi yang tidak didapatkan di kanal media arus utama. Media tersebut disebarkan antar anak muda ke anak muda dengan cara-cara anak muda yang kreatif dan seru. Dengan sistem berjejaring antar sekolah dan pendampingan diharapkan gerakan anti korupsi anak muda ini semakin kuat dan nyata menciptakan perubahan dalam skala regional, bukan dalam lingkup satu sekolah saja.

Kontak: Retha Dungga rdungga(@)ti.or.id

May 4, 2011
#Ashoka #Bahasa Indonesia #activism #changemaker #clubSPEAK #youth #english post
Next page →
2012 2013
  • January
  • February
  • March 3
  • April 5
  • May 1
  • June 5
  • July
  • August
  • September
  • October
  • November
  • December
2011 2012 2013
  • January 12
  • February 4
  • March 11
  • April 2
  • May
  • June
  • July 1
  • August 1
  • September
  • October
  • November
  • December
2010 2011 2012
  • January 2
  • February
  • March
  • April 17
  • May 14
  • June 3
  • July 7
  • August 3
  • September 8
  • October 6
  • November 2
  • December 2
2010 2011
  • January
  • February
  • March
  • April
  • May
  • June
  • July
  • August
  • September
  • October 12
  • November
  • December